Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar global menunjukkan perubahan arah pada awal Juli 2026. Setelah sepanjang semester pertama mayoritas mata uang utama dunia mencatatkan penguatan terhadap rupiah, dalam beberapa hari terakhir justru terjadi pembalikan tren.
Rupiah mulai menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.
Berdasarkan data Bloomberg hingga 15 Juli 2026, seluruh mata uang utama mencatatkan pelemahan terhadap rupiah dalam lima hari terakhir. Dolar Australia (AUD), dolar Selandia Baru (NZD), dolar Amerika Serikat (USD), dolar Singapura (SGD), poundsterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), franc Swiss (CHF), euro (EUR), hingga yen Jepang (JPY) seluruhnya berada di zona negatif terhadap rupiah.
Kondisi tersebut menunjukkan apresiasi rupiah mulai meluas setelah sempat berada di bawah tekanan pada paruh pertama tahun ini.
Namun, gambaran yang berbeda terlihat jika menilik kinerja selama semester I 2026. Pada periode Januari hingga Juni, seluruh mata uang utama dunia masih membukukan kenaikan terhadap rupiah. Bahkan, dolar Australia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, diikuti dolar Amerika Serikat, dolar Singapura, poundsterling, hingga euro.
Tekanan terhadap rupiah pada semester pertama dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar sempat dibayangi kekhawatiran pelebaran defisit fiskal yang memicu aksi jual aset keuangan domestik.
Baca Juga: Kurs Rupiah Melemah, Bergerak di Atas Rp 17.900 Per Dolar AS Hari Ini (23/7)
Di saat bersamaan, ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven semakin menekan nilai tukar rupiah.
Memasuki Juli, tekanan tersebut mulai mereda. Stabilitas pasar keuangan domestik membaik sehingga rupiah mampu memangkas sebagian pelemahannya terhadap mata uang utama dunia.
Perubahan arah ini juga terlihat dari kinerja month to date (MTD). Mayoritas mata uang utama masih mencatatkan penguatan terhadap rupiah, tetapi besarnya penguatan mulai menyusut.
Bahkan franc Swiss dan yen Jepang telah berbalik melemah terhadap rupiah, menjadi indikasi awal bahwa tren penguatan rupiah mulai menyebar ke lebih banyak mata uang.
Sementara secara year to date (YTD) hingga pertengahan Juli, seluruh mata uang utama masih membukukan penguatan terhadap rupiah. Hal ini menunjukkan pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir belum sepenuhnya menghapus penguatan yang terbentuk sejak awal tahun.
Pelaku pasar kini akan mencermati apakah penguatan rupiah tersebut dapat berlanjut pada paruh kedua 2026. Arah kebijakan suku bunga bank sentral global, perkembangan dolar AS, kondisi fiskal domestik, serta dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
