S&P Tegaskan Rating Indonesia, Yield SBN Ogah Turun

Kamis, 16 Juli 2026 | 16:58 WIB
S&P Tegaskan Rating Indonesia, Yield SBN Ogah Turun
ILUSTRASI. Penegasan Rating S&P pada Juli 2026 Tak Menurunkan Yield SBN Acuan (AI/ChatGPT/Wahyu Tri Rahmawati)

Reporter: Dupla Kartini, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yield Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun seri FR0108 masih bertahan di level tinggi meski imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) mulai melandai dari puncaknya. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga masih berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh level terlemah sepanjang tahun.

Berdasarkan data Bloomberg dan Bank Indonesia, yield SUN acuan 10 tahun berada di level 7,216% pada 16 Juli 2026. Posisi ini naik 113,4 basis poin (bps) dibandingkan akhir 2025 yang sebesar 6,082%.

Kenaikan yield SUN tersebut jauh lebih besar dibandingkan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun. Yield US Treasury tercatat naik 38,4 bps sepanjang tahun berjalan, dari 4,167% pada akhir Desember 2025 menjadi 4,551% pada pertengahan Juli 2026.

Sementara itu, kurs rupiah melemah dari Rp 16.680 per dolar AS pada akhir 2025 menjadi Rp 18.064 per dolar AS pada 16 Juli 2026 siang tadi. Dengan demikian, rupiah telah terdepresiasi sekitar 8,3% sepanjang tahun berjalan.

 

Penegasan Rating S&P pada Juli 2026 Tak Menurunkan Yield SBN Acuan

Baca Juga: Kurs Rupiah Menguat 3 Hari, Rupiah Spot Berada Sedikit di Bawah Rp 18.000

 

 

 

Pergerakan ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa premi risiko yang diminta investor terhadap aset keuangan Indonesia masih relatif tinggi. Meski yield US Treasury tidak lagi berada di titik puncak, yield SUN belum menunjukkan penurunan yang berarti.

Tekanan mulai terlihat sejak awal Februari ketika Moody's merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Yield FR0108 yang sebelumnya berada di kisaran 6,3% langsung bergerak naik dan menembus 6,4%.

Sentimen negatif kembali muncul pada 4 Maret setelah Fitch juga mengubah outlook Indonesia menjadi negatif. Yield SUN kemudian melanjutkan kenaikannya hingga mendekati 6,9% pada pertengahan Maret.

Pada periode April hingga Mei, pasar sempat lebih stabil. Namun tekanan kembali meningkat ketika harga minyak dunia melonjak menembus US$ 100 per barel pada 18 Mei. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan neraca perdagangan migas Indonesia.

Dua hari kemudian, Bank Indonesia merespons tekanan pasar dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Kendati demikian, kenaikan suku bunga tersebut belum mampu meredakan tekanan secara penuh.

Baca Juga: Investor Asing Kabur, IHSG Tetap Menguat Tipis Hari Ini (15/7)

Puncak gejolak terjadi pada Juni. Yield FR0108 sempat melonjak hingga 7,395% pada 11 Juni 2026, menjadi level tertinggi sepanjang tahun. Pada periode yang sama, rupiah juga terus melemah dan bergerak menuju level Rp 18.000 per dolar AS.

Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate menjadi 5,75% pada 18 Juni 2026. Langkah tersebut membantu menahan tekanan lebih lanjut di pasar obligasi dan pasar valuta asing, meski yield SUN tetap bertahan di atas level 7%.

Di sisi lain, yield US Treasury justru cenderung bergerak lebih rendah dibandingkan puncaknya pada Mei. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mencapai 4,666% pada 19 Mei sebelum turun ke kisaran 4,55% pada pertengahan Juli.

Sentimen positif baru muncul pada 13 Juli ketika S&P Global Ratings mempertahankan outlook Indonesia pada level stabil. Namun respons pasar obligasi masih terbatas. Yield FR0108 tetap berada di kisaran 7,2%, menunjukkan investor masih mencermati berbagai risiko eksternal maupun domestik.

Data hingga 16 Juli 2026 memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia belum sepenuhnya mereda. Meski yield US Treasury mulai turun dan stabilitas peringkat kredit Indonesia kembali mendapat dukungan dari S&P, yield SUN dan kurs rupiah masih berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan posisi awal tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BERITA TERKAIT
TERBARU
loading
Close [X]