Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah di perdagangan perdana bulan Oktober. Kamis (1/10), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 72 atau 0,40% menjadi Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah Jisdor juga melemah Rp 60 atau 0,34% menjadi Rp 17.937 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini berbalik tajam dari penguatan yang terjadi kemarin. Harga minyak yang tinggi menjadi penyebab tekanan mayoritas mata uang dunia.
Data domestik yang dirilis hari ini pun turut berpengaruh terhadap mata uang garuda. Inflasi bulan September 2026 meningkat menjadi 3,28% secara tahunan dari bulan Agustus yang berada di 3,19%.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis neraca dagang Agustus 2026 yang mencatat surplus besar, US$ 3,55 miliar. Surplus ini lebih disebabkan oleh penurunan tajam impor dari US$ 26,09 miliar pada Juli 2026 menjadi US$ 23,06 miliar pada Agustus 2026. Sementara ekspor turun tipis dari US$ 26,22 miliar menjadi US$ 26,21 miliar pada periode yang sama.
Baca Juga: Tabel Harga Emas Batangan Antam Hari Ini (1/10), Cek Semua Ukuran
Seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada hari ini. Rupee India tertekan 0,50%. Dolar TAiwan melemah 0,49%.
Yen Jepang melemah 0,48%. Won Korea melemah 0,42%. Baht Thailand melemah 0,32%.
Dolar Singapura melemah 0,26%. Peso Filipiina melemah 0.23%. Ringgit Malaysia melemah 0,12%. Dolar Hong Kong melemah 0,008%.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,32% menjadi 101,78. Indeks dolar telah menguat empat hari perdagangan beruntun.
Tren naik indeks dolar masih terasa di pasar. Dari 17 hari perdagangan terakhir, indeks dolar menguat 14 hari.
Yield US Treasury acuan AS mencapai angka tertinggi sejak tahun 2002. Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di 5,34% yang melampaui puncak tahun 2007. Awal pekan ini, yield untuk tenor 30 tahun juga mencapai level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Kenaikan harga minyak memicu aksi jual di pasar obligasi global. Utang pemerintah di seluruh dunia terus meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak. Hal ini menyebabkan investor bertaruh bahwa bank-bank sentral dunia akan menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
