Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ternyata hanya mampu menguat sehari pada hari Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate. Hari ini, kurs rupiah kembali berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kamis (24/9), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 98 atau 0,55% menjadi Rp 17.916 per dolar AS. Sejalan, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 95 atau 0,53% menjadi Rp 17.898 per dolar AS.
Bank Indonesia mengatakan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah aksi jual obligasi dan kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Batangan (24 September 2026), Hari Ini Turun atau Naik?
Tak cuma rupiah, mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Rupiah mencatat pelemahan paling dalam, diikuti oleh won Korea yang melemah 0,40%.
Dolar Taiwan melemah 0,33%. Rupee India melemah 0,22%. Peso Filipina melemah 0,18%.
Baht Thailand melemah 0,07%. Yuan China melemah 0,04%. Yen Jepang melemah 0,04%. Ringgit Malaysia melemah 0,01%.
Hanya dolar Singapura dan dolar Hong Kong yang menguat masing-masing 0,02% dan 0,005% terhadap dolar AS.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat tipis 0,01% menjadi 101,10. Indeks dolar telah berada di atas level 101 sejak kemarin.
Baca Juga: IHSG Melesat 1,56% Jadi 6.374 pada Rabu (23/9), Meski Net Sell Asing Masih Terjadi
Indeks dolar pun menguat empat hari perdagangan berturut-turut. Indeks dolar menguat seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor pendek.
Yield US Treasury tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Mei 2024. Penguatan dolar AS dan yield US Treasury terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan independensi bank sentral di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump agar suku bunga pinjaman diturunkan.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu penyebab kenaikan suku bunga. Di AS, kenaikan harga minyak berpengaruh langsung pada harga BBM yang akhirnya menimbulkan inflasi tinggi. Untuk melawan inflasi tinggi, bank sentral perlu menaikkan suku bunga .
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
