KONTROVERSI PASOKAN JAGUNG

Jagung adalah penghasil karbohidrat terbesar setelah beras dan gandum. Tapi tidak seperti di Benua Amerika tempat tanaman ini berasal, jagung bukan makanan pokok kebanyakan orang di Indonesia. Konsumsi jagung di Indonesia tak lebih dari 2 kg per orang tiap tahunnya. Bandingkan dengan konsumsi beras Indonesia sebesar 85 kg per orang setiap tahun.

Konsumsi jagung untuk dimakan langsung di Indoensia hanya 4%-10%. Lantas, mengapa gejolak harga jagung menjadi isu besar, toh tak banyak pemakan jagung di negeri ini?

Hal ini karena besarnya kebutuhan industri pangan terhadap jagung yang mencapai 90%-96% dari konsumsi jagung nasional.

Jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak di Indonesia, baik ternak ayam, spai maupun ikan. Lonjakan harga jagung, akan mendongrak harga pakan ternak. Ujung-ujungnya harga ayam, sapi dan ikan ikut melambung.

Total Produksi
 

USDA BISA MEMBUAT PROYEKSI LEBIH AKURAT

ANGKA VERSI LAIN

Perdebatan pemerintah dan pelaku industri mengenai ketersediaan jagung memang tidak pernah mencapai titik temu. Menurut Gabungan Pengusaha Makanan Ternak sebenarnya ada juga angka dari USDA (Kementerian Pertanian Amerika Serikat) yang bisa dijadikan pembanding.

Kalau kita mempergunakan angka konsumsi dari GPMT dan produksi dari USDA, maka selisih suplai dan demand tinggal menjadi 4 juta ton setiap tahun.

 

ANGKA-ANGKA YANG AJAIB

ANGKA VERSI PEMERINTAH

Setiap tahun Kementerian Pertanian menerbitkan beberapa rangkaian angka (angka ramalan 1-3, angka sementara, dan angka tetap) untuk memprediksi produksi dan konsumsi berbagai komoditas, termasuk jagung. Tapi angka-angka itu biasanya berdiri sendiri (produksi, konsumsi, ekspor-impor) sehingga tidak banyak yang menyadari angka ini susah dimengerti karena menghasilkan selisih yang luar biasa.

Tanpa memperhitungkan persediaan di tahun sebelumnya saja, selisih produksi ditambah impor dikurangi ekspor dengan konsumsi sudah mencapai 15 juta -16 juta ton setiap tahun. Hampir sama dengan angka produksi tiap tahunnya.

Yang pantas dicatat, berdasar angka prediksi versi pemerintah, jumlah produksi umumnya jauh di atas jumlah kebutuhan jagung. Ini berarti ada surplus jagung. Namun, nyatanya Indonesia tetap mengimpor jagung setiap tahunnya. Hal ini yang membuat banyak pihak meragukan akurasi data-data versi pemerintah.

Angka "Ajaib"