Apa beda apartemen dan kondominium?

Di Indonesia istilah apartemen jauh lebih popuper dibandingkan dengan kondominium. Hampir semua orang akan mengerti bangunan vertikal dengan unit-unit hunian bernama apartemen.

Tapi beberapa jenis apartemen, dinamai serviced apartment adalah jenis apartemen yang tidak bisa dimiliki, unit tersebut hanya untuk disewakan.

Pada waktu kita bicara unit hunian vertikal untuk dijual, maka namanya akan menjadi spesifik kondominium. Jadi kondominium mengacu kepada status kepemilikan unit-unit hunian. Sementara untuk apartemen, tidak semua jenis apartemen bisa dimiliki.

×
Loading...

Pertumbuhan Harga dan Permintaan Apartemen di Indonesia

Hunian Jangkung yang Makin Menjamur

Jakarta memang kota metropolitan besar yang ketinggalan membangun hunian vertikal untuk warganya. Bandingkan saja dengan Hong Kong atau Singapura misalnya, di mana pemerintah dari awal sudah menyiapkan rumah tinggal vertikal murah untuk warga kotanya. Padahal pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir membuat Indonesia, menjadi sorotan mata dunia sebagai target pasar yang menggiurkan.

Kebutuhan rumah tinggal di kawasan bisnis pun terus meningkat. Tak hanya para eksekutif papan atas Indonesia yang mengincar hunian mewah di sekitar tempat kerjanya, tapi juga para ekspatriat yang berdatangan ke negeri ini.

Tren Pertumbuhan Kondominium di Jabodetabek 2007-2015

Jumlah Unit Apartemen di Jabodetabek dalam 9 tahun terakhir

Banyak orang yang masih merasa terpaksa untuk tinggal di rumah vertikal. Tapi belakangan beberapa orang lebih memilih tinggal di apartemen untuk mendapat akses lebih baik. Sebagian lagi melihat peluang investasi yang menggiurkan dari kondominium.

Itulah sebabnya, pengembang makin giat membangun berbagai jenis apartemen. Di tahun 2015 ini, diperkirakan akan bertambah 66 ribu unit baru kondominium, atau tumbuh 48% menjadi 205 ribu unit.

Penyebaran Kondominium di Jabodetabek dalam 5 tahun terakhir

Data persentase dan jumlah penyebaran kondominium di Jabodetabek dari tahun 2011 hingga 2015

Kini, harga tanah di Jakarta yang semakin mahal membuat pembeli kelas menengah tak lagi mampu membeli unit di Jakarta. Pengembang pun menggeser pembangunannya ke luar kota. Maka tak heran pembangunan rumah vertikal pun mulai marak di luar Jakarta.